Cerita Kena Covid 19 – Part 1

Yuhuu.. Selamat pagi. Sudah hari ke 17 di tahun yang baru. Bagaimana resolusi awal tahun? Sudah terlaksana atau masih jadi wacana nih? Hihi. Semoga sih kali ini beneran bisa terwujud ya. Amin.

Ok, sesuai judulnya gw mau cerita perjalanan gw terkena si virus yang masih hits di dunia ini. Buat teman-teman yang sudah ikutin di Ig stories tentu gak akan kaget ya.

Oh Pypy instal medsos lagi? Iya. Abis beneran mati gaya beberapa hari kemarin itu.

Ceritanya bermula ketika selesai liburan Natal dan Tahun Baru kantor mewajibkan karyawan yang mengambil cuti untuk menunjukkan bukti hasil negatif lewat swab antigen/PCR sebelum masuk. Nah, karena posisinya kami baru balik dari PIK ke rumah itu sudah kesorean maka gw berinisiatif untuk swab pada saat jam makan siang di tanggal 4 Januari 2021. Gw swab di Speedlab Kemang dengan harga IDR 875k untuk hasil H+1. Entah kenapa gw memang ada feeling kalau hasilnya mungkin gak bagus, tapi tentu gw hempaskan.

Tanggal 5 pagi hasilnya keluar dan yes dari hasilnya gw dinyatakan Positic Covid 19 dengan CT Value 29,34. Hal pertama yang gw lakukan adalah menelpon CiBoss dikantor, dan CiBoss menyuruh gw untuk gak boleh masuk. Gw sendiri walaupun udah ada feeling tapi entah kenapa tetap denial barangkali ini false positif. Gw langsung kontak Dewi, sang agent insurance terkasih untuk bertanya mengenai prosedur claim apabila terkena C19. Dewi & Jo langsung sigap bantuin kami cari RS yang bisa melayani pasien C19. Jadi rencananya gw ingin swab lagi buat mastiin. Tapi memang dimana-mana penuh, ada yang bisa tapi harus appointment H-1. Akhirnya ketemu di RS EMC yang katanya masih ada slot. Gw langsung pesan Grab dan bawa L. Diperjalanan tetiba turun hujan, deras sekali. Sayangnya saat tiba gw langsung gak selera begitu melihat setengah ruang tunggu tempat pengambilan sample kehujanan dan membuat suasana menjadi crowded sekali.

Gw memutuskan untuk pulang saja. Setelah otak lebih tenang dan dengan penuh perhitungan akhirnya gw mutusin untuk gak jadi swab lagi. Ini juga didukung oleh CiBoss yang berkata kalau memang hasilnya sudah positif ya sudah. Yang terpenting sekarang hubungi saudara yang abis liburan bareng, hubungi RT, dan Gugus Tugas.

Disinilah gw bersyukur sekali punya tetangga dan pengurus RT yang benar-benar care dan berfungsi dengan baik. Tidak ada sama sekali stigma negatif ke orang yang terkena C19. Mereka langsung mendoakan dan menawarkan bantuan buat gw dan Keluarga. Gw juga langsung menghubungi Gugus Tugas dan langsung dihubungkan dengan PIC di Puskesmas, Ibu R.

Setelah berkonsultasi dengan Gugus Tugas dan Ibu R mereka menyarankan gw untuk isolasi mandiri ke Hotel Yasmin Karawaci. Semua bebas biaya karena merupakan tempat rujukan isoman dari Pemkab Tangerang. Dan karena gw orangnya action dulu baru mikir maka gw pun langsung mengiyakan arahan untuk isoman ke hotel tersebut.

Tapi gw tidak langsung berangkat saat itu juga, pihak Puskesmas dan Hotel harus berkoordinasi dulu mengenai ketersediaan tempat. Sehingga hari itu gw disuruh untuk isoman didalam kamar dengan mengenakan masker dan dilarang berinteraksi dengan orang rumah.

Besok paginya Ai, Mama, dan L langsung menuju klinik dekat rumah untuk swab. Ai dan Mama PCR sameday dengan biaya @ IDR 1,5jt dan L antigen dengan biaya IDR 250k. Disaat bersaman gw dapat WA dari Ibu R bahwa gw akan langsung diberangkatkan pagi itu juga jam 10. Duerr.. Gw langsung siapin keperluan dan mandi. Gw telpon Ai buat segera pulang karena gak mungkin gw pergi tanpa bertemu mereka.

Jam 9 lewat Mama dan L tiba duluan, Ai ternyata masih harus menunggu surat Dokter. Gw telpon lagi dan meminta Ai untuk pulang terlebih dahulu. Jam 9.30 dia pun tiba dirumah, ternyata dia tetap mau mengantar gw ke Puskesmas.

Seperti mau staycation XD

Kami pun berangkat. Begitu tiba di depan Puskesmas langsung disambut oleh lelaki menggunakan APD yang belum terpakai lengkap yang langsung menyuruh gw masuk ke mobil ambulans. Tanpa pelukan (tentu saja) hanya lambaian tangan gw berpisah dengan Ai. Sudah mau mewek tapi gw tepis perasaan itu. Katanya covid harus dilawan dengan imun yang baik. Maka gw pun tidak mau terbawa kesedihan.

Begitu masuk didalam mobil ternyata sudah ada tetangga, hanya selang 1 rumah, sudah duduk didalam. Gw bingung, di group WA komplek diberi tahu bahwa Pak A ini terkonfirmsi positif dari akhir Desember, kok ada disini pikir gw. Ternyata Pak A awalnya isoman di hotel dengan biaya sendiri, dan hari itu baru dapat tempat di Hotel Yasmin. Beruntungnya gw yang bisa langsung dapat tanpa perlu mengantri.

Dan hari itu gw mengalami sendiri hal yang sering gw lihat di berita maupun di jalanan gimana pasien covid diantar dengan ambulans ninu ninu dan dikemudikan oleh petugas ber APD lengkap. Rasanya? Kayak jantung mau copot. Gimana enggak? Ambulans yang kami tumpangi melaju dengan cepat dan menerobos beberapa lampu merah. Haha. Sungguh pengalaman yang gak akan terlupakan.

Bersama Pak A

tbc…